Contact Online

Senin, 17 September 2012

Masalah tafakur dan dzikir

 Masalah Tafakur
Tafakur biasa di sebut merenung, berfikir mencari alternativ untuk menimbang, memandang dan memperhatikan, yang dimaksudkan untuk memperkuat keyakinan tentang kebesaran dan kekuasaan allah, lalu menjadi sikap yang selalu memotivasi individu untuk aktif berdzikir dan beribadah.
1.   Beberapa macam tafakur
Menurut imam Al-Din Al-Amawi
a.   Tafakur terhadap ciptaan allah, dapat melahirkan makrifat
b.   Tafakur terhadap kekuasaan dan segala nikmat yang diperoleh dapat melahirkan kecintaan hamba kepada-Nya
c.   Tafakur terhadap janji dan pahala dari allah dapat melahirkan dorongan untuk memperoleh imbalan dari allah
d.   Tafakur terhadap ancaman dan azab allah, dapat melahirkan sikap untuk menjauhi perbuatan buruk dan rasa takut terhadap siksaanya.
e.   Tafakur terhadap penyimpangan nafsu yang sering dilakukan manusia, dapat melahirkan rasa malu terhadapnya.
Menurut imam Ghozali
a.   Tafakur terhadap sikap dan prilaku diri sendiri, yang dapat membedakan perbuatan bai dan buruk sesama manusia, dan yang membedakan perbuatan baik dan buruk terhadap allah
b.   Tafakur terhadap kebesaran, ketinggian dan keagungan allah
Tafakur merupakan kegiatan kerohanian untuk mengamati sesuatu sehingga dapat memantapkan keimanan dan ketakwaan terhadap penciptanya
Tafakur tidak perlu menyebut kalimat dzikir tetapi dzikir harus menyebutkannya, maka inilah yang di sebut dzikrullisan meskipun dzikir hati tidak menyebut kalimat dzikir tetap tidak bisa disamakan dengan tafakur, karena didahului dengan pengamatan indrawi, sedangkan dzikir hati tidak demikian halnya, ia langsung mengingat allah.
Masalah Dzikir
Dzikir adalah mengingat dan menyebut asma allah dan sifat-sifatnya yang dilakukan dalam beberapa perbuatan, antara lain kalimat tahlil, tahmid, istigfar, dan lain sebagainya
1.   Pembagian dzikir
Sayid Bakri Al-Makki membagi kedalam dua bagian
a.   Dzikir nyata, atau dzikir bibir, atau mengerakan bibir,
b.   Dzikir tidak nyata, atau tidak mengerakan bibir, terselubung atau tak nampak,
Imam Al-Ghzali membagi kedalam 4 bagian
a.   Dzikir lisan yang tidak di ikuti dengan kehadiran hati
b.   Dzikir hati yang disertai dengan dzikir lisan yang cenderung dipaksakan
c.   Dzikir hati yang di ikuti dengan kesadaran sendiri
d.   Dzikir yang sudah menyatu dengan hati, sehingga perbuatan hati itu selalu berbentuk dzikir.
2.   Kedudukan dzikir dalam tasawuf
Untuk mencapai suatu tingkatan maqam diperlukan latihan-latihan kerohanian yang dilakukan dengan penuh ketekunan dan kesinambungan, yang inti pokoknya adalah memperbanyak amalan sunat dan selalu berdzikir.
Kaitan tafakur dengan dzikir
Tafakur dalam bahasa tasawuf  bebeda dalam bahasa mantiq, dalam tasawuf tafakur adalah kegiatan akal yang dituntun oleh perasaan hati terhadap suatu objek fikir untuk mendorong sikap agar selalu melakukan dzikir kepada allah. Sedangkan dalam bahasa mantiq adalah kegiatan akal dalam memikirkan sesuatu untuk membentuk suatu konsep baru
Untuk menambah dorongan batin dalam memperkuat sikap dan prilaku baik, maka diharuskan pula bertafakur terhadap kebesaran allah, lewat renungan terhadap ciptaannya maka inilah yang mendorong manusia untuk memperbanyak dzikir kepadanya, baik dzkir lisan maupun dzikir hati, jai tafakur adalah kegiatan merenung untuk menimbulkan keyakinan yang kuat tentang ke-mahakuasaan allah, sehingga timbul kesadaran yang kuat pula untuk berdzikir kepadanya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan jejak jurangan disini, jika ingin artikel ini, tinggal di copy paste aja

Open Panel

Blogroll