Contact Online

Senin, 17 September 2012

Makalah pertentangan sosial dan konflik

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kami, yang selalu meridhoi amal ibadah kami, dan senantiasa melimpahkan karunia serta nikmatnya kepada kami serta shalawat beriring salam semoga selalu berlimpah kepada sang motivator ulung kami yaitu baginda rasulullah Muhammad SAW. Serta kepada keluarga dan sahabatnya.
       Dalam makalah ini kami merangkum beberapa hal tentang pertentangan-pertentangan social, lapisan social, kelas sosial, perbedaan kepentingan dan konflik.
       Dalam penyusunan makalah ini, kami sadar bahwa karya ini masih sangat jauh dari harapan, akan tetapi inilah karya maksimal kami, yang dapat dilakukan saat ini. Kami selaku penyusun makalah ini berhutang budi kepada pihak yang turut membantu untuk mewujudkan makalah ini, oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih, kepada ibu Dra. Anis zohriah.MM sebagai dosen kami yang mendorong terwujudnya karya ini dan teman-teman serta do’a dari kedua orang tua kami yang selalu member dukungan semangat.
            Akhirnya hanya Allah yang dapat memberikan balasan terhadap amal baik kami, dan kami mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi kami serta bagi semua yang ikut bergabung dalam diskusi pembahasan makalah ini. Amin.


Buka:
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang masalah
Manusia merupakan mahluk social yang tak bisa lari dari kenyataan hidup individu dan kelompok, sebagai salah satu penyusun terciptanya sebuah masyarakat atau negara, maka sebagai mahluk social individu atau sosial kelompok memiliki peran dan kepentingan tersendiri baik untuk pribadinya maupun untuk kelompoknya, maka dari sinilah kita bisa mengetahui bagai mana realitas social yang sering kita jalani. Tidak wajar jika dalam kehidupan tidak ada yang namanya konflik atau pertentangan-pertentangan social, karna pertentangan dan konflik memeliki manfaat dan kerugian tersendiri, meskipun konflik menimbulkan perpecahan, tapi konflik juga dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan sesama kelompoknya atau pada satu negaranya.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beragam suku budaya dan bahasa yang salah satunya akibat dari perbedaan suku dan budaya tresebut bisa saja menimbulkan konflik atau pertentangan social, entah itu konflik yang berbau sara atau yang lainya.
Maka dari sini lah, penyusun mencoba mengungkapkan permasalahan-permasalahan yang menyebabkan pertentangan social, baik diantaranya kelas social, konflik maupun pelapisan social.
1.1 Rumusan Masalah
Adapun dalam perumusan masalah ini adalah sebagai bearikut :
1. Apakah yang menyusun terjadinya pertentengan-pertentangan social di masyarakat?
2. Apa yang di maksud dengan pelapisan social?
3. Apa yng menyebabkan terjadinya pelapisan social?
4. Apa yang dimaksud deengan kelas social?
5. Apa yang dimaksud dengan perbedaan kepentingan dan konflik?
6. Factor apa yang menyebabkan terjadinya konflik di masyarakat?
1.2 Maksud dan Tujuan
1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah ISD
2. Mengetahui struktur yang menyusun terjadinya pertentangan-pertentangan social di masyarakat
3. Mengetahui maksud dari pelapisan social
4. Mengetahui penyebab terjadinya pelapisan social
5. Mengetahui apengertian dari kelas social, perbedaan kepetingan dan konflik
6. Mngetahui factor yang menyebabkan terjadinya konflik



BAB II
PEMBAHASAN
PERTENTANGAN–PERTENTANGAN SOSIAL
Hidup bermasyarakat berarti kehidupan dinamis dimana setiap anggota satu dan lainnya harus saling memberi dan menerima. Dalam kehidupan bermasyarakat ada ikatan berupa norma serta nilai-nilai yang telah dibuat bersama oleh para anggotanya. Norma dan nilai-nilai tersebut menjadikan alat pengontrol agar para anggota masyarakat tidak terlepas dari rel ketentuan yang telah disepakati itu.Salah satu bukti kuatnya ikatan itu adalah adanya rasa solider, toleransi, tenggang rasa, tepa selira diantara para anggotanya.
Dalam sebuah masyarakat, selain bisa ditemui banyak persamaan-persamaan dalam berbagai hal, tetapi seringkali juga banyak didapati perbedaan-perbedaan dan bahkan sering kita temui pertentangan-pertentangan.Perbedaan kepentingan sebenarnya merupakan sifat naluriah disamping adanya persamaan kepentingan.Itulah sebabnya keadaan masyarakat dan Negara mengalami kegoyahan-kegoyahan yang terkadang keaaan tidak terkendali dan dari situlah terjadinya perpecahan.
1. Lapisan-Lapisan Sosial
Masyarkat merupakan satu kesatuan yang didasarkan ikaatan –ikatan yang sudah teratur dan boleh dikatakan stabil, masyarakat tidakdapat di pisahkan tanpa individu begitu juga sebaliknyabbetapa individu dan masyarakat adalah komplementer yang dapat kita lihat dari kenyataan bahwa manusia dipengaruhi oleh masyarakat demi pembentukan pribadinya danindividu dipengaruhi oleh masyarakat dan bahkan bias menyebabkan perubahan besar pada masyarakatnya
1.1 Pengertian lapisan sosial
Kata stratification berasal dari kata stratum, jamaknya strata yang berarti lapisan. Menurut Pitirim A. Sorokin, pelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atau hierarkis. Hal tersebut dapat kita ketahui adanya kelas-kelas tinggi dan kelas-kelasyang lebih rendah dalam masyarakat.
Menurut P.J. Bouman, pelapisan sosial adalah golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu.Oleh karena itu, mereka menuntut gengsi kemasyarakatan. Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan anggota masyarakatyang berada di kelas tinggi. Seseorang yang berada di kelas tinggi mempunyai hak-hak istimewa dibanding yang berada di kelas rendah.Pelapisan sosial merupakan gejala yang bersifat universal. Kapan pun dan di dalam masyarakat mana pun, pelapisan sosial selalu ada. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menyebut bahwa selama dalam masyarakat ada sesuatuyang dihargai, maka dengan sendirinya pelapisan sosial terjadi. Sesuatu yang dihargai dalam masyarakat bisa berupa harta kekayaan, ilmu pengetahuan, atau kekuasaan.
Menurut Pitirim A.Sorokin, Bahwa “Pelapisan Masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarchis)”.
Sedangkan menurut Theodorson dkk, didalam Dictionary of Sociology, bahwa “Pelapisan Masyarakat berarti jenjang status dan peranan yang relatif permanent yang terdapat didalam sistem sosial (dari kelompok kecil sampai ke masyarakat) didalam pembedaan hak, pengaruh, dan kekuasaan. Masyarakat yang berstratifikasi sering dilukiskan sebagai suatu kerucut atau piramida. dimana lapisan bawah adalah paling lebar dan lapisan ini menyempit ke atas.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelapisan sosial adalah pembedaan antar warga dalam masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial secara bertingkat. Wujudnya adalah terdapat lapisan-lapisan di dalam masyarakat diantaranya ada kelas sosial tinggi, sedang dan rendah.
Pelapisan sosial merupakan perbedaan tinggi dan rendahnya kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompoknya, bila dibandingkan dengan posisi seseorang maupun kelompok lainnya. Dasar tinggi dan rendahnya lapisan sosial seseorang itu disebabkan oleh bermacam-macam perbedaan, seperti kekayaan di bidang ekonomi, nilai-nilai sosial, serta kekuasaan dan wewenang
1.2 Sebab-Sebab timbulnya Lapisan Sosial
Stratifikasi sosial dapat terjadi melalui proses sebagai berikut :

a. Ascribed Status yaitu terjadinya secara otomatis, karena faktor-faktor yang dibawaindividu sejak lahir. Misalnya, kepandaian, usia, jenis kelamin, keturunan, sifat keaslian keanggotaan seseorang dalam masyarakat.
b. Achieved status, terjadi dengan sengaja dengan kerja keras dan usahanya untuk tujuan bersama dilakukan dalam pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasi-organisasi formal, seperti :
pemerintahan, partai politik, perusahaan, perkumpulan,angkatan bersenjata.
c. Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya.
d. Kriteria Dasar Penentu Stratifikasi Sosial
Kriteria atau ukuran yang umumnya digunakan untuk mengelompokkan para anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan tertentu adalah sebagai berikut :
1. Kekayaan, Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak maka ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
2.Wewenang, Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
3. Kehormatan, Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan.

1.3 Sifat Stratifikasi Sosial

1.Bersifat tertutup (Closed Stratification)
Yaitu membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik gerak ke atas maupun gerak kebawah, bila akan menjadi anggota biasanya berdasarkan kelahiran (contoh : Kasta dalam agama Hindu, Sistem Feodal, Sistem Rasial)
2. Bersifat Terbuka(Open Stratfication)
Yaitusetiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan , atau bagi mereka yang tidak beruntung untuk jaatuh dari lapisan atas ke lapisan bawahnya. (slideshare.net)

2. Kelas Sosial
Kelas sosial didefinisikan sebagai suatu strata (lapisan) orang-orang yang berkedudukan sama dalam kontinum (rangkaian kesatuan) status sosial. Definisi ini memberitahukan bahwa dalam masyarakat terdapat orang-orang yang secara sendidi-sendidi atau bersama-sama memiliki kedudukan social yang kurang lebih sama. Mereka yang memiliki kedudukan kurang lebih sama akan berada pada suatu lapisan yang kurang lebih sama pula. Kelas sosial didefinisikan sebagai pembagian anggota masyarakat ke dalam suatu hierarki status kelas yang berbeda sehingga para anggota setiap kelas secara relatif mempunyai status yang sama, dan para anggota kelas lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau lebih rendah. Kategori kelas sosial biasanya disusun dalam hierarki, yang berkisar dari status yang rendah sampai yang tinggi. Dengan demikian, para anggota kelas sosial tertentu merasa para anggota kelas sosial lainnya mempunyai status yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari pada mereka. Aspek hierarkis kelas sosial penting bagi para pemasar. Para konsumen membeli berbagai produk tertentu karena produk-produk ini disukai oleh anggota kelas sosial mereka sendiri maupun kelas yang lebih tinggi, dan para konsumen mungkin menghindari berbagai produk lain karena mereka merasa produk-produk tersebut adalah produk-produk “kelas yang lebih rendah”.

Horton ( 1989 : 5 ) kelas sosial didefinisikan sebagai suatu strata (lapisan) orang-orang yang berkedudukan sama dalam kontinum ( rangkaian kesatuan ) status sosial. Definisi ini memberitahukan bahwa dalam masyarakat terdapat orang-orang yang secara sendidi-sendidi atau bersama-sama memiliki kedudukan social yang kurang lebih sama. Mereka yang memiliki kedudukan kurang lebih sama akan berada pada suatu lapisan yang kurang lebih sama pula. Kedudukan social orang-orang tersebut akan diperbandingkan dengan kedudukan orang-orang lain yang memiliki kedudukan social kurang lebih sama. Perbandingan tersebut akan menyebabkan suatu kelompok orang-orang yang berkedudukan sama tersebut akan berada di atas atau dibawah kelompok orang-orang yang lain. Munculah kelas social atas kelas social menengah dan kelas social bawah berdasarkan criteria tertentu, seperti yang ada dalam stratifikasi social di atas.
Didalam uraian teori tentang masyarakat yang berlapis lapis senantiasa di jumpai istilah social klass.istilah kelas ini tidak slalu mengandung arti sama.adakalanya yang dimksud dengan kelas adalah semua orang dan keluarganya yang sadar akan suatu kedudukan nya diadalam suatu lapisan.sedangkan mengenai kedudukann tersebut dapat di ketahuidan diatasi oleh masyarakat umum. Dengan demikian maka pengetian kelas adalah sama dengan pngertian lapisan tanpa membedakan dasar lapisan seperti uang, tanah kekuasaan,atau udasar lainnya. Adapula yang menggunakan istilah kelas itu hanya hanya untuk lapisan yang berstandarkan atas status kemsyarakatan dinamakan sekelompok kependudukan. Max wiber membedakan juga antara dasar-dasar ekonomi kedudukan social dari lapisan itu. Adanya kelas yang bersifat ekonomisdibagi lagi dalm kelas yang berstandarkan atas pemilikan tanahda benda-benda dan kelas yang bergerakdalam bidang ekonomi dengan menggunakan keahliannya.
Disamping itu Max Wiber masih menyebutkan danya golongan yang mendapat penghormatan khudsus dari masyarakat yang dinamakn stand.

Schumpeter dlam panangannya adanya kelas-kelas sosiologis menggunakan penilaian fungsional dan historis bersama-sama. Dikatakan olehnya bahwa tebentuknya kelas dalam masyarakat adalah karna diperlukan untuk menyesuaikan dengan keperluan-keperluan yang nyataakan tetapi makna kelas-kelas dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti denga benar apabila sebelumnya telah diketahui oleh mereka tentang riwayat terjadinya.kehidupan social tersebut diatur berdasarkan kedudukan atas status yang formal dan seorang ataau golongan yang dilrngkapi dengan peranan pernanya.

Karl Mark beranggapan bahwa masyarakat dan kegiatan-kegiatannya pada dasarnya merupakan alt-alat yang terorganisasi agar manusia tetap hidup. Disana kelas merupakan kenyataan dalam masyarakat yang timbul dari system produksi,
Konsep Kal Mark, mengenai revolusi meskipun pada akhirnya tdak dapat dihindarkan, hanya akan terjadi bila mana orang akan bergerak melakukannya. Ini mengandung pengertian bahwa memang ada kukuatan sosial yang menakutkan, akan tetapi kekuatan tersebut hanya kan terwujud lewat aktualisasi tindakan sukarela.
Sesunguhnya masyarakat terbagi kedalam lapisan utama : struktur dasar yaitu lapisan dibawah sebagai penyebab, dan sprastruktur , yaitu lapisan diatas yang kebanyakan berperan sebagai akibat yang ditentukan. Struktur dasar trdiri atas kelompok mapan yang memainkan peran utama, misalnya foedalisme dan lainnya menjadi sprastruktur. Memang yang kainnya menyesuaikan diri dengan tindakan, misalnya struktur dasar yang terkait dengan borjois maka lapisans prastruktur pun akan mengalami perubahan. Dan ini landasanya adalah pemilikan yang terdiri daari dua jenis, yakni tunggal (monopoli) dan pemilikan umum (social) atau lahirnya prinsip-prinsip sosialisme dan kapitalisme.

Kelas social atas biasanya mendapat penghormatan atau di hormati oleh kelas social dibawahnya karena beberapa keunggulan yang dimiliki kelas social atas misalnya kedudukan sosialnya maupun kekayaanya. Setiap kelas social yang ada, mereka yang ada di dalamnya biasanya memiliki kebiasaan dan perilaku dan gaya hidup yang sama. Misalnya kelas social atas kebiasaan belanjanya ke Mall atau ke super market yang ada. Pola makan mereka dengan berbagai macam komsumsi yang bervariasi untuk setiap harinya dengan menu makan yang memenuhi empat sehat lima sempurna. Kelas bawah tentunya akan belanja di warung-warung terdekat dengan pola makan seadanya bahkan sering kita jumpai mereka makan jauh dari kebutuhan gizi yang diperlukan.
Pola-pola social dan gaya hidup telah memberikan kesadaran mereka akan kelas social yang mereka miliki, walaupun mereka tidak menghendaki untuk menduduki kelas social bawah, namun mereka menyadari kelas social yang mereka miliki atau digolongkan; oleh karena itu kesadaran kelas social ini akan membawa konsekuensi pola-pola perilaku yang berbeda antara kelas sosial satu dengan kelas social yang lain.
Pola-pola social dan gaya hidup masing-masing kelas social menjadikan kelas social yang mereka miliki sebagai sebuah sub-culture dalam suatu struktur social. Seolah-olah setiap anggota dari kelas sosial tertentu dilihat berbeda dengan anggota kelas social yang lain dan mereka seakan akan mempunyai hak dan jkewajiban berbeda dalam kehidupan masyarakatnya.
Kelas social dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu :
1. Kelas Sosial Terbuka
Walaupun besar kecilnya kelas social tidak dapat diukur, namun secara umum dapat diketahui bahwa bentuk stratifikasi social di mana kelas social ada di dalamnya adalah berbentuk pyramid runcing keatas dengan pembagian kelas social atas paling sedikit, disusul kemudian kelas social menengah dan kelas social bawah paling banyak jumlahnya.
Kelas social terubuka memungkinkan anggota kelas social yang ada berpindah atau bergeser ke kelas social yang lain baik vertilkal ke atas maupun vertical ke bawah. Kelas social terbuka biasanya terdapat pada masyarakat modern dimana keterkaitan dengan adat semakin kecil, sehingga symbol-simbol adat yang ada sebagai symbol dari kelas social tertentu sudah tidak ada lagi.
Masyarakat modern biasanya menggunakan berbagai simbol-simbol kelas soaialnya dengan panghasilan dan kekayaan yang dapat di wujudkan dengan gedung mewah maupun mobil serta pola dan gaya hidup kelas atas
Batas-batas kelas social sebenarnya tidak jelas sekali sehingga sangat mungkin terjadi interseksi atar kelas atas bawah dengan kelas menengah atas , maupun kelas menengah bawah dengan kelas bawah atas. Kenyataan semacam ini untuk menunjukan bahwa kelas social adalah konsep sosiologis dan ilmiah yang dalam kenyataan dalam kehidupan masyarakat tidak ada. Gambaran di atas juga menjelaskan bahwa yang mempengaruhi kelas social juga sangat relative satu dengan yang lain dan kedudukan seseorang dalam masyarakat adalah hasil totalitas dari criteria penentuan kelas social yang ada. Misalnya dalam hal pendidikan memiliki gelar S3, namun secara ekonomi masuk kelas menengah, tetapi pengaruh di dalam kehidupan masyarakat sangtat besar; maka mereka masih tetap digolongkan pada kelas social tinggi. Demikian juga halnya orang yang memiliki gelar sarjana dan belum memilki pekerjaan maupun penghasilan serta rumah dapat dimasukan ke kelas menengah dan tidak pada kelas bawah. Relativitas yang ada dalam penentuan kelas social bagi seseorang adalah kompleksitas dan totalitas dari kedudukan social yang dimilki dan itu bersumber dari penilaian masyarakatnya dan bukan penilain dari dirinya sendiri.
2. Kelas Sosial Tertutup
Kelas social dikategorikan tertutup manakala sedikit kemungkinan orang bergeser dari kelas social tertentu ke kelas social yang lain, baik vertikal ke atas maupun vertuikal ke bawah. Kasta di masyarakat India misalnya merupakan salah satu contoh kelas social yang bersifat tertutup, system kelas social kasta tidak memungkinkan orang untuk berpindah kasta apalagi dari kasta ke kasta atas. Kedudukan social seseorang diperoleh melalui jalur keturunan atau hubungan darah.
Masyarakat tradisional status keluarga sangat menentukan kelas social bagi keturunannya. Kwelas bangsawan biasanya anaknya akan dengan sendirinya anak mereka termasuk kelas bangsawan dengan symbol-simbol kebangsawanan yang dimiliki dengan gelar ataupun perilaku yang menunjukan kelasnya.
Simbol-simbol kelas social yang ada pada masyarakat tradisional seperti pakaian dengan perhiasan mas intan permata, pakaian berbulu , maupun urnamen gading gajah dan lain sebagainya sekarang mulai hilang digantikan dengan symbol-simbol yang lebih bersifat kekayaan dan ekonomis.

3. Perbedaan Kepentingan dan Konflik

3.1. pengertian

Konflik merupakan bagian dari suatu kehidupan di dunia yang kadang tidak dapat dihindari.Konflik umumnya bersifat negative. Karena ada kecen derungan antara pihak-pihak yang terlibat konfilk saling bertentangan dan berusaha untuk saling meniadakan atau melenyapkan. Dalam hal ini yang bertentangan dianggap sebagai lawan atau musuh.Di sinilah letak perbedaan konflik dengan rivalitas atau persaingan. Meskipun dalam rivalitas terdapat kecenderungan untuk mengalahkan, namun tidak mengarah pada saling meniadakan saingan atau kompetitor. Saingan atau tidak dianggap musuh yang harus dilenyapkan. Untuk memahami lebih dalam mengenai konflik social,
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik, dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002) diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, dan pertentangan. Menurut Kartono & Gulo (1987), konflik berarti ketidaksepakatan dalam satu pendapat emosi dan tindakan dengan orang lain
Menurut Minnery, mendefinisikan konflik sebagai interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain saling bergantung namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan di mana setidaknya salah satu dari pihak-pihak tersebut menyadari perbedaan tersebut dan melakukan tindakan terhadap tindakan tersebut (Minnery 1985, hal 35). Dalam sosiologi konflik disebut juga pertikaian atau pertentangan. Pertikaian adalah bentuk persaingan yang berkembang secara negatif. Hal ini berarti satu pihak bermaksud untuk mencelakakan atau berusaha menyingkirkan pihak lainnya. Dengan kata lain, pertikaian merupakan usaha penghapusan keberadaan pihak lain. Pengertian ini senada dengan pendapat Soedjono.
Menurut Soedjono (2002:158), Pertikaian adalah suatu bentuk interaksi social dimana pihak yang satu berusaha menjatuhkan pihak yang lain atau berusaha mengenyahkan rivalnya.
Sedangkan menurut Soerjono Soekanto (1989:86), pertentangan atau pertikaian atau konflik adalah suatu proses yang dilakukan orang atau kelompok manusia guna memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai ancaman dan kekerasan. Oleh karena itu, konflik diidentikkan dengan tindak kekerasan. Konflik dapat pula diartikan sebagai suatu perjuangan memperoleh hal-hal yang langka, seperti nilai, status, kekuasaan, otoritas, dan sebagainya guna memperoleh keuntungan. Oleh karena itu, setiap pihak yang berkonflik berusaha menundukkan saingannya dengan menggunakan segala kemampuan yang dimiliki agar dapat memenangkan konflik tersebut. Tindak kekerasan dianggap tindakan yang tepat dalam mendukung individu mencapai tujuannya. Dalam arti mudah, konflik didefinisikan sebagai perbedaan pendapat, kepentingan, atau tujuan antara dua atau lebih pihak yang mempunyai objek yang sama dan membawa pada perpecahan
Para penulis seperti Berstein, Coser, Follett, Simmel, Wilson, dan ryland; memandang konflik sebagai sesuatu yang tidak dapat dicegah timbulnya, yang secara potensial dapat mempunyai kegunaan yang fungsional dan konstrutif; namun sebaliknya, dapat pula tidak bersifat fungsional dan destruktif (Bernstein, 1965). Konflik mempunyai potensi untuk memberikan pengaruh yang positif maupun negatif dalam berbagai taraf interaksi manusia.
Pertentangan dan konflik social jika ditinjau secara psikologis dapat dikatan sebagai reflexi dari kondisi psikis manusia dalam kerangka interaksi sosialnya. Struktur energy psikis manusia yang terdiri atas ego dan super ego merupakan proses dinamik individu.dalam proses tersebut sering terjadi pertentengan pertentangan antara kebutuhan dan keinginan ego dengan norma-norma yang dipegang oleh super ego. Ego sebagai lembaga yang bekerjauntuk mencapai tujuanberada pada garis persimpangan antara keingina untuk secepatnya tercapai dengan kekkuatan super ego yang selalu mempetimbangkan normadan nilai dalam usaha mencapai tujuan ego.
Interaksi antara individu dan kelompoknya mempertemukan berbagai macam ego dan berbagai pertimbangan super ego dan tentu saja hal ini menyebabkan penting nya pelembagaan ego dan super ego tersebut dalam suatu proses integrasi. Jika teori psiko analitis itu kita proyeksi kan dalamkehidupan social untuk mengkaji konflik social, maka prinsip-prinsip seperti di atas akan kita temukan sebagi gejala social. Pertentangan sosia; dengan integrasi dalamhal ini mempunyai fungsi gandadalam mencapi tujuan egi atau lembaga ego.
Dalam mengkomunikasikan harapannya kelompok yang berkepentingan di hadapkan pada kekuatan normadan tata nilai masyarakat yang secara konsensual di terima sebagai nilai universal. Antara komunikasi harapan dan standaar normative tidak selalu sejalan, sehingga komuniksi harapan ini masih harus melalui proses pertimbangan super ego. Ketidak sesuaian pandangan antara kedua kekuatan tersebut menimbulkan suatu sikap yang bertentangan yang diwujudkan dengan kesalah pahaman diantara keduanya. Pada tahap pertama akan lahirlah yang dinytakan dengan pernyataan konflik baik dalam bentuk pernyataan maupun bentuk-bentuk langsung dalam berbaagai aksi

Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena adanya dorongan untuk memenuhi kepentingannya, sama halnya dengan konflik. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi.perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Banyak rakyat dan pemimpin negara yang mempunyai argumen masing-masing untu kepentingannya.Namun Kadang juga secara terioristis, perbedaan kepentingan dapat menimbulkan masalah yang besar bagi orang yang melakukanya. Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi.Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres.
Ada pun dibawah ini yang merupakan bagian dari faktor penyebab konflik :
1. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan
2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Istilah konflik cenderung menimbulkan respon-respon yang bernada ketakutan atau kebencian, padahal konflik itu sendiri merupakan suatu unsur yang penting dalam pengembangan dan perubahan.Konflik dapat memberikan akibat yang merusak terhadap diri seseorang, terhadap anggota-anggota kelompok lainnya, maupun terhadap masyarakat. Sebaliknya konflik juga dapat membangun kekuatan yang konstruktif dalam hubungan kelompok. Konflik merupakan suatu sifat dan komponen yang penting dari proses kelompok, yang terjadi melalui cara-cara yang digunakan orang untuk berkomunikasi satu dengan yang lain.
Konflik mengandung suatu pengertian tingkah laku yang lebih luas dari pada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar dan perang.Dasar konflik berbeda-beda. Dalam hal ini terdapat tiga elemen dasar yang merupakan ciri-ciri dari situasi konflik yaitu :
1. Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau bagian-bagiam yang terlibat dalam konflik.
2. Unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan-kebutuhan,tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasan-gagasan.
3. Terdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut.
Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misalnya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi pada lingkungan yang paling kecil yaitu individu, sampai pada ruang lingkup yang paling besar yaitu masyarakat:
1. Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk kepada adanya pertentangan, ketidakpastian, atau emosi-emosi dan dorongan-dorongan yang antagonistik dalam diri seseorang
2. Pada taraf dalam kelompok, konflik-konflik ditimbulkan dari konflik-konflik yang terjadi di dalam diri individu, dari perbedaan-perbedaan pada para anggota kelompok dalam tujuan-tujuan, nilai-niali dan norma-norma, motivasi-motivasi mereka untuk menjadi anggota-anggota kelompok dan minat-minat mereka.
3. Pada taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan di antara nilai-nilai dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai dan norma-norma kelompok lain di dalam masyarakat tempat kelompok yang bersangkutan berada. Perbedaan dalam tujuan, niali, dan norma serta minat; disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman hidup dan simber-sumber sosio ekonomis dalam suatu kebudayaan tertentu dengan yang ada di da;am kebudayaan-kebudayaan yang lain.

3.1 Macam-Macam Konflik Sosial

Sebagaimana diungkapkan di depan, bahwa munculnya konflik dikarenakan adanya perbedaan dan keragaman. Berkaca dari pernyataan tersebut, Indonesia adalah salah satu Negara yang berpotensi konflik. Lihat saja berita-berita di media massa, berbagai konflik terjadi di Indonesia baik konflik horizontal maupun vertikal. Konflik horizontal menunjuk pada konflik yang berkembang di antara anggota masyarakat. Yang termasuk dalam konflik horizontal adalah konflik yang bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan seperti di Papua, Poso, Sambas, dan Sampit. Sedangkan konflik vertikal adalah konflik yang terjadi antara masyarakat
dengan negara. Umumnya konflik ini terjadi karena ketidakpuasan akan cara kerja pemerintah. Seperti konflik dengan para buruh, konflik Aceh, serta daerah-daerah yangmuncul gerakan separatisme.
Namun, dalam kenyataannya ditemukan banyak konflik dengan bentuk dan jenis yang beragam. Soerjono Soekanto (1989:90) berusaha mengklasifikasikan bentuk dan jenis-jenis konflik tersebut. Menurutnya, konflik mempunyai beberapa bentuk khusus, yaitu:

a. Konflik Pribadi
Konflik terjadi dalam diri seseorang terhadap orang lain. Umumnya konflik pribadi diawali perasaan tidak suka terhadap orang lain, yang pada akhirnya melahirkan perasaan benci yang mendalam. Perasaan ini mendorong tersebut untuk memaki, menghina, bahkan memusnahkan pihak lawan. Pada dasarnya konflik pribadi sering terjadi dalam masyarakat.

b. Konflik Rasial
Konfilk rasial umumnya terjadi di suatu negara yang memiliki keragaman suku dan ras. Lantas, apa yang dimaksud dengan ras? Ras merupakan pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri biologisnya, seperti bentuk muka, bentuk hidung, warna kulit, dan warna rambut. Secara umum ras di dunia dikelompokkan menjadi lima ras, yaitu Australoid, Mongoloid, Kaukasoid,Negroid, dan ras-ras khusus. Hal ini berarti kehidupan dunia berpotensi munculnya konflik juga jika perbedaan antarras dipertajam.

c. Konflik Antarkelas Sosial
Terjadinya kelas-kelas di masyarakat karena adanyasesuatu yang dihargai, seperti kekayaan, kehormatan, dan kekuasaan. Kesemua itu menjadi dasar penempatanm seseorang dalam kelas-kelas sosial, yaitu kelas social atas, menengah, dan bawah. Seseorang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar menempati posisi
atas, sedangkan orang yang tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan berada pada posisi bawah. Dari setiap kelas mengandung hak dan kewajiban serta kepentingan yang berbeda-beda. Jika perbedaan ini tidak dapat terjembatani, maka situasi kondisi tersebut mampu memicu munculnya konflik rasial.

d. Konflik Politik Antargolongan dalam Satu Masyarakat maupun
antara Negara-Negara yang Berdaulat
Dunia perpolitikan pun tidak lepas dari munculnya konflik sosial. Politik adalah cara bertindak dalam menghadapi atau menangani suatu masalah. Konflik politik terjadi karena setiap golongan di masyarakat melakukan politik yang berbeda-beda pada saat menghadapi suatu masalah yang sama. Karena perbedaan inilah, maka peluang terjadinya konflik antargolongan terbuka lebar. Contoh rencana undang-undang pornoaksi dan pornografi sedang diulas, masyarakat Indonesia terbelah menjadi dua pemikiran, sehingga terjadi pertentangan antara kelompok masyarakat yang setuju dengan kelompok yang tidak menyetujuinya.

e, Konflik Bersifat Internasional
Konflik internasional biasanya terjadi karena perbedaanperbedaan kepentingan di mana menyangkut kedaulatan Negara yang saling berkonflik. Karena mencakup suatu negara, maka akibat konflik ini dirasakan oleh seluruh rakyat dalam suatu negara.

BAB III

PENUTUP
1. Kesimpulan
Daftar Pustaka

1. Wahyu, Ramdani, Mag., Msi, 2007, ISD pelapisan social keragaman dan sederajat, Bandung, Pustaka Setia.
2. Noor, M., Arifin, Drs., H. ISD untuk IAIN, STAIN, PTAIS senua fakultas dan jurusan
3. http://id.shvoong.com.sociology,pengertian-konflik-sosial-macam-macam
4. Answermedia.net
5. http://www.crayonpedia.org/ konflik social
6. http://kicksmile.blogspot.com/2009/12/kelas-sosial-dan-status-sosial.html
7. http://marifwitjaksono.blogspot.com/2010/11/artiekel-pelapisan-sosial.htm
8. http://ocw.gunadarma.ac.id
9. http://id.wikipedia.org
10. http://keyrenz.wordpress.com/2009/11/22/pelapisan-sosial-masyarakat/


0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan jejak jurangan disini, jika ingin artikel ini, tinggal di copy paste aja

Open Panel

Blogroll